Pameran Paguyuban SIDJI Puber #1

9th March, 2010 - 30th March, 2010

Sidji Mencari Taji

Oleh Kuss Indarto

Ada banyak komunitas seni rupa, art group, sanggar, paguyuban, dan semacamnya, di Yogyakarta. Mereka bertumbuh, berkembang, dan mendinaminasi diri untuk berkompetisi dengan lingkungannya. Ada kalanya mereka mati karena tak banyak dihidupi oleh anggotanya sendiri. Ada kalanya juga mereka tetap bertahan namun tetap dengan kebersahajaan capaian atau prestasi, dan tenggelam di antara reriuhan dinamika seni rupa itu sendiri. Namun juga, di sela-sela itu, muncul satu dua kelompok seni yang begitu kuat, berkarakter, dinamis, hingga menjadi trend setter bagi lingkungannya.

Paguyuban seni Sidji merupakan satu di antara sekian banyak komunitas seni itu. Usianya kini sudah masuk tahun ke 10. Tentu bukan sebuah penanda waktu yang pendek, namun juga belum sangat panjang. Ada takaran relativitas untuk menyebut rentang usia tersebut sebagai panjang atau pendek yang bertumbuh pada tilikan sejarah komunitas seni di Yogyakarta. Artinya, usia komunitas yang bertahan hanya 5 tahun, sebagai misal, bisa dikatakan terlalu “panjang” usianya kalau dia tak berbuat dan merengkuh capaian apapun yang bermanfaat bagi anggota kelompok dan lingkungannya.
Menyoal tentang komunitas seni, publik seni rupa (di Yogyakarta) bisa mengais kembali ingatan atas hal-ihwal semacam ini. Kita bisa menyimak keberadaan Sanggar Dewata Indonesia (SDI) yang didirikan oleh Nyoman Gunarsa, Made Wianta dan beberapa perupa asal Bali di Yogyakarta pada tahun 1971 lalu. Kini SDI masih bertahan, tentu dengan segala dinamika belitan persoalan internal dan eksternalnya. Publik juga bisa menyimak sepak terjang Komunitas Seni Sakato yang bersisi perupa asal Minangkabau, yang tahu ini telah menginjak usia hingga 15 tahun. Belum lagi Sanggar Bambu yang dibidani oleh Sunarto PR dan rekan-rekan seniman lain dan bertahan hingga setengah abad, tentu dengan segenap pahit getir.

Basis Komunitas
Dari sekian banyak komunitas seni yang (pernah) hidup, berproses, bertahan, dan berprestasi di Yogyakarta, saya melihat ada beberapa hal elementer yang menginspirasi kelahirannya. Pertama, ada komunitas yang terbangun karena aspek “kohesi etnisitas” (ikatan kesukuan). Ini terlihat dari, sebagai contoh, Komunitas Seni Sakato yang mengikat jalinan batin seniman asal Minangkabau, atau Sanggar Dewata Indonesia yang disemangati oleh aspek ke-Bali-an antar anggotanya. Pun dengan komunitas seni Muara (almarhum) yang mayoritas anggotanya terikat oleh “spirit” kedaerahan bumi “Palembang” (atau kawasan seputar Sumatra Selatan). Juga kelompok-kelompok lain.

Kedua, komunitas seni yang dibangun oleh “kohesi estetik” lewat kebersamaan dalam penggalian spirit pilihan dan kecenderungan kreatif tertentu. Inilah yang kira-kira mendasari kelahiran Kelompok Seni Jendela (meski secara kebetulan semua anggotanya juga ada kohesi etnik Minangkabau). Di antara anggota kelompok ini ada semacam tali ikat yang menyatu karena sama-sama menggumuli cara berpikir kreatif yang menggagas dan menelurkan karya visual yang tidak mengindahkan tema-tema sosial kemasyarakatan dan semacamnya, namun lebih menyoal pada eksplorasi ide-ide visual yang melampaui konservatisme (bentuk). Dalam ranah yang kurang lebih sama, sempat ada juga komunitas seni Apotik Komik yang sekarang telah bubar. Komunitas ini mendasarkan diri jalinan kreativitasnya dari ketertarikan antar anggotanya pada genre komik (konsep dan visualnya) sebagai titik berangkat atas proses penciptaannya.

Ketiga, adanya “kohesi ideologis”, yakni munculnya komunitas seni yang mengindikasikan aspek ideologi tertentu sebagai dasar praktik penciptaan, sikap politik kesenian dan sumber gagasan kreatifnya. Ini terlihat pada diri kelompok Taring Padi yang sempat berdiri beberapa bulan setelah rezim Soeharto runtuh dan “konon” masih bergerak hingga hari ini. Kelompok ini menyepakati ideologi yang disebut oleh sementara pengamat sebagai penganut ideologi “realime sosialis”. Ini tak jauh berbeda dengan senior mereka, yakni sanggar Bumi Tarung, yang pernah tumbuh dan berpengaruh kuat pada dasawarsa 1950-an. Beberapa pengurus serta anggotanya (Amrus Natalsja, Djoko Pekik, Misbach Thamrin, dan sosok-sosok lainnya) masih hidup dan sesekali berpameran.

Keempat, adanya “kohesi kolegial-akademis”, yakni tali ikat yang berasal dari spirit kolektivitas antarseniman diperaantarai oleh aspek kolegial-akademis yang mendasari pendirian sebuah kelompok. Sebagian besar kelompok ini mengemuka secara incidental namun pada umumnya tak bertahan lama karena tali ikat semacam ini diasumsikan sulit untuk menjadi “api semangat” yang terus menghidupi jalinan bentuk kreatif mereka. Misalnya sempat ada kelompok Spirit ’90 yang dikomandani oleh Temmy Setyawan dan beranggotakan mahasiswa Jurusan Seni Lukis ISI Yogyakarta angakatan 1990, seperti Putu Sutawijaya, Tomy Faisal Alim, dan lainnya. Atau, contoh lain, kelompok Blok 9 yang terdiri dari sekelompok seniman asal Angkatan 1999 Jurusan Seni Lukis ISI Yogyakarta (Agus Triyanto BR, Arya Sucitra, dan lainnya), yang masih harus diuji kekuatannya dalam bertahan dalam gerusan tantangan dan waktu ke depan.

Kerukunan Sidji
Pengelompokan berdasar spirit pembentuk kelompok ini niscaya masih debatable karena masih berupa hipotesa awal, kurang pendalaman dan bersifat atas pandangan sekilas atas beberapa kelompok, belum berdasarkan penelitian lebih lanjut. Namun bukan berarti bahwa hipotesa awal ini dapat diabaikan begitu saja.

Lalu, dengan mendasarkan pada hipotesa awal tersebut, dimanakah letak Paguyuban Seni Sidji ini berada?

Saya melihat bahwa spirit muasal pembentuk(an) kelompok ini kurang lebih serupa dan sebanding dengan Komunitas Seni Sakato, SDI, dan lainnya yang diikat oleh gairah kreatif sesama seniman dalam lingkar “kohesi etnisitas”, bahkan lebih mengerucut dari soal etnisitas. Mereka ini bukan saja sesama seniman asal dan beretnik Jawa, namun lebih menukik pada gairah untuk menunjukkan keguyuban sebuah kawasan yang relatif lebih mungil lagi, yakni berasal dari bagian tertentu wilayah kabupaten Bantul, terutama Imogiri. Mereka bukan tengah merantau seperti halnya para seniman Bali (SDI) dan Minangkabau (Sakato) yang sepertinya membutuhkan ruang kebersamaan bernama komunitas. Namun paguyuban ini terkumpul dari keberserakan yang berbeda: ada seniman akademis dan otodidak yang menyatu di dalamnya, ada luapan hasrat untuk belajar dan berproses bersama, ada pula upaya pemanfaatan kesempatan, peluang, dan bangunan jejaring informasi yang kemungkinan bisa ditangguk di dalamnya. Untuk hal terakhir itu, ihwal jaringan informasi, tentu menjadi penting karena mereka tampaknya masih berada dalam lingkar luar jalur utama informasi. Atau mungkin ada ketimpangan akses informasi antar-anggota di dalamnya.

Kata “paguyuban” itu sendiri, yang menjadi tajuk komunitas tersebut, mengindikasikan pada upaya untuk mendasarkan aspek kerukunan sebagai ruh penting dalam kesadaran dan kebersamaan berkomunitas. Tentu saja ini tak jauh dari “pandangan hidup” khas Jawa yang mengedepankan harmoni, kerukunan dan penolakan terhadap sesuatu yang berbau serta berpotensi ke arah konflik. Saya tak tahu persis apakah konsep “klasik” tentang paguyuban tersebut masih begitu kuat menyelubungi Paguyuban Seni Sidji ini, atau telah mencoba memberi nilai kebaruan yang lebih menyesuaikan dengan progresivitas jaman.
Apapun itu, pada hemat saya, sebuah komunitas semacam Paguyuban Seni Sidji ini berpotensi untuk jauh lebih berkembang apabila: pertama, sosok pemimpin tidak menjadi figur tunggal yang sentral dalam banyak segi kekuatan, mulai dari kepemilikan atas kekuatan gagasan, pemikiran, estetik, informasi, bahkan ekonomi. Kekuatan itu, idealnya, bisa terbagi secara kolektif pada banyak figur di dalamnya, sehingga kebergantungan tersebut tidak menjadikan relasi dalam komunitas tersebut berpola patron-klien, namun lebih sebagai partner-partner yang setara (equal).

Kedua, semua anggota komunitas tersebut memiliki kesadaran bersama bahwa hidup dalam sebuah iklim berkomunitas adalah hidup dalam kemampuan untuk berbagi. Maka, pada pemahaman lebih lanjut atas hal ini, kemampuan berbagi dapat diejawantahkan dalam upaya untuk mendisribusikan semua potensi yang berlebih dari masing-masing personal itu kepada personal lain dalam komunitas tersebut. Ini terutama pada problem gagasan, informasi hingga aspek artistik dan estetik masing-masing seniman, sehingga pembentukan karakter kelompok sangat berpotensi kuat terbangun dari pola relasional seperti ini.

Ketiga, sudah saatnya sebuah komunitas memberlakukan pola manajerial yang lebih maju ketimbang pola komunitas 10 atau lebih tahun yang lalu yang sekadar menjadikan ini sekadar ajang berkumpul. Tentu bukan yang ketat seperti sebuah perusahaan yang basis ekonominya kuat, namun setidaknya manajerial tersebut mampu membagi kewenangan masing-masing anggotanya untuk berbagi pemahaman. Ada yang mengatur di sisi informasi, penalaran, pendalaman teknis berkarya, dan sebagainya.
Masih banyak problem yang bisa diurai untuk progresivitas Sidji, namun setidaknya tiga poin di atas bisa menjadi titik awal yang bisa dikembangkan lebih lanjut. Dan ini semua bergantung pada Sidji untuk lebih bertaji dan punya mimpi untuk menjadi “nomer siji” (terdepan atau menjadi trend setter).

Puber
Pameran kali ini kiranya adalah upaya serius yang kesekian kalinya bagi Sidji untuk menunjukkan kepada publik atas pencapaian yang telah diupayakannya. Dan seperti yang telah saya katakan di depan, sebuah komunitas yang dibangun oleh “kohesi etnistas” memang belum memungkinkan untuk membangun ciri yang kuat dalam pencapaian karakter karya, mulai dari konsep, cara berpikir, hingga (apalagi) visualisasinya. Publik dapat melihat kreasi masing-masing personal dengan sistem pengetahuannya sendiri-sendiri, dan membawa tema yang dimauinya sendiri-sendiri pula. Ini sebuah risiko wajar dan sekaligus tak terelakkan.

Ada seniman yang telah mulai mumpuni sehingga dari tilikan dunia gagasan dan dunia bentuk atas karyanya telah dengan jelas memperlihatkan kualitasnya. Namun ada pula seniman yang pada presentasi karyanya kali ini diduga masih mengalami belitan problem teknis dan cara pandang terhadap tema tertentu yang masih bersahaja, sehingga apa boleh buat, ada ketimpangan yang cukup kentara dengan seniman yang saya “definisikan” sebelumnya.

Inilah risiko yang mesti siap ditangguk oleh Paguyuban Seni Sidji. Dan inilah agenda persoalan yang mesti disegerakan untuk terus-menerus dicarikan titik solusinya. Kalau telah berketetapan hati menjadi seniman (profesional) tentu aspek pencarian, penggalian, dan pendalaman pada segi gagasan dan kebentukan yang diperlukan pada proses berkarya seni rupa mesti menjadi kesadaran mendasar untuk diagendakan.

Semoga teman-teman di Sidji masih mau untuk bermimpi besar, dan tentu mewujudkannya!

Kuss Indarto, penulis seni rupa, tinggal di Yogyakarta.

© 2010. Pameran Paguyuban SIDJI Puber #1. Tembi Contemporary